Adat Tiap Tempat Berbeda-beda, Tapi Kenapa Seaneh Ini?

Ada 2 fakta bagai langit dan bumi, ada hal yang musti kita perhatikan saat berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain, negatif dan positifnya pastilah ada. sebut saja yang paling sering terjadinya perbedaan adalah. Adat.

Entah kamu mau berupaya keras mempertahankan adat istiadat asalmu tapi ketika kamu berkeinginan mengontrak di tempat yang baru bahkan diluar kota pasti ada adat yang berbeda, seperti kata peribahasa: Peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung tinggi,”

Jadi menghormati adat merupakan sebuah keharusan, meskipun ada hal parsial yang kontradiktif antara adat istiadat dan agama, tetap dilihat juga apakah bisa membahayakan keyakinan kita, terutama aqidah jika kita seorang muslim.

Beberapa waktu lalu saya terperanjat ketika istri saya bertemu dengan anak si empunya kontrakan-sebut saja teh pipit-, yang baru sebulan lebih kami tinggal disana.

Istri saya menceritakan semuanya ketika saya pulang kerja.

Awalnya mereka basa basi, ngalor ngidul dan pada akhir pembicaraan terjadilah percakapan seperti ini,

Teh Pipit itu bilang,

“Teh emang kenapa pindah kesini?

“Soalnya kontrakan yang sebelumnya mau dijual, jadi saya nyari kontrakan di daerah sini,” jawab istri saya.

“Oh gtu, soalnya sebelumnya pernah ada yang ngontrak disini, terus di sekitar sini ada yang lagi hamil malah keguguran karena ada orang yang ngontrak disini. Kasihan, lagi merjuangin anak…” timpal si anak juragan kontrakan itu

“Ohh…” jawab istri saya, sambil berusaha menahan mimik wajah karena kaget.

“Adat disini mah gtu teh…” katanya lagi.


Lah, serius ini adat?

Jujur saya baru pertama kali mendengar hal ini, apa hubungannya antara ibu hamil dengan orang baru yang pindah kontrakan?

Sebenarnya teh Pipit itu menceritakan hal lain, misal: saat tidak ada air, disarankan untuk menyembelih kambing dan dibagikan ke tetangga. (Keetulan kami tinggal di daerah yang airnya langsung dari gunung, jadi bukan air dari PDAM.)

Kalau adat semacam itu masih bisa masuk akal, anggap aja itu sedekah jadi bisa melancarkan rezeki dan airnya lancar kembali. Walaupun ya kami juga tidak mampu ketika harus menyembelih kambing disaat air surut 😁

Sebenarnya agak ambigu ketika anaknya mengucapkan kata-kata seperti itu, seperti sangat tersurat bahwa kita harus pergi dari sini, karena sekali lagi membuat ibu hamil jadi keguguran Padahal abah (Sebutan juragan kontrakan) sngat bersemangat ketika kami ingin menempati salah satu kontrakannya. Mungkin saja tidak tahu ketika istri saya sedang hamil, karena anak saya yang pertama belum genap 2 tahun.

Padahal abah dan anaknya pernah tinggal di daerah yang sama dengan istri saya, di daerah Bekasi.

Memang perlunya edukasi sama warga yang masih menganggap mitos aneh itu begitu mempengaruhi gaya interaksi sosial antar warganya terutama yang baru.

Walaupun memang jika kejadian itu terjadi, dan siapapun tidak menginginkan itu terjadi, keguguran.

Ya lalu? masa mau dikaitkan sesuatu yang sekali lagi, tak ada hubungannya.

Mitos aneh yang beredar dikalangan masyarakat mungkin tidak ada hubungannya dengan kelangsungan hidup manusia.

Tapi jika tujuannya supaya adab tetap terjaga mungkin bisa saja, seperti contohnya.

“jangan duduk depan pintu nanti jodohnya susah” sebenarnya ngga ada hubungannya, hanya saja kurang sopan kalau duduk pas depan pintu.

“Jangan melangkahi orang nanti kamu hutang darah” karena memang kurang sopan kalau melakukan hal semacam itu.

Pernah kamu mendengar hal semacam itu? ada baiknya tapi kalau terlalu dimaknai secara bahasa agak riskan juga.

Mungkin sesuatu yang sudah saya bahas diatas juga ada “hikmahnya” cuma saya belum menemukannya saja.

Harus gimana ini, pindah kontrakan aja kali ya…agak risih sebenarnya.

Emang paling bener mending di area perumahan saja. Sepertinya terkesan agak cuek, entah saya belum tau, karena belum pernah ngontrak di are perumahan.

License

Author: Jundi Mubarok

Link: https://jundi.web.id/posts/adat-di-berbagai-tempat/

License: CC BY-NC-SA 4.0

Bagikan secara non-komersial • Sertakan sumber • Gunakan lisensi serupa.

Comments